Sejarah Desa Citikur
Desa Citikur merupakan salah satu desa tua yang memiliki sejarah panjang di wilayah Kecamatan Ciwaru, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Desa ini sudah dikenal sejak masa lampau sebagai permukiman yang memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi. Namun, perjalanan panjang Desa Citikur tidak selalu berjalan mulus.
Pada tahun 1962, atas dasar musyawarah bersama antara tokoh masyarakat, lembaga adat, dan pemerintah daerah saat itu, disepakati bahwa wilayah Desa Citikur akan dipindahkan ke daerah Desa Sumberjaya. Keputusan besar ini dilandasi pertimbangan administratif dan kebutuhan pembangunan saat itu. Sejak pemindahan tersebut, Citikur resmi berstatus sebagai Dusun Citikur dan menjadi bagian dari Desa Sumberjaya selama kurang lebih 43 tahun.
Meskipun demikian, semangat masyarakat Dusun Citikur untuk kembali berdiri sebagai desa yang mandiri tidak pernah padam. Semangat gotong royong dan keinginan untuk membangun jati diri sebagai desa sendiri terus berkobar di tengah masyarakat. Tokoh-tokoh masyarakat seperti Nana Udrayana (yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dusun Citikur), R. Asep Saputra, M. Nana, M. Pendi, dan sejumlah tokoh berpengaruh lainnya bersatu padu memperjuangkan pemekaran Citikur agar diakui kembali sebagai desa definitif.
Perjuangan panjang selama puluhan tahun itu akhirnya membuahkan hasil. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Kuningan Nomor 17 Tahun 2005 tentang Pembentukan Desa Citikur Kecamatan Ciwaru, Desa Citikur resmi kembali berdiri sebagai desa mandiri. Momen ini menjadi tonggak sejarah penting bagi seluruh warga Citikur yang telah lama merindukan kembalinya identitas desa mereka.
Setelah resmi menjadi desa, pada tahun 2006 dilaksanakan pemilihan kepala desa pertama. Dalam pemilihan tersebut, R. Asep Saputra terpilih sebagai Kepala Desa Citikur yang pertama dan menjabat hingga tahun 2013. Pada tahun 2013, diadakan kembali pemilihan kepala desa, dan kali ini Nana Supriatna terpilih untuk memimpin hingga tahun 2019. Selanjutnya, pada pemilihan tahun 2019, R. Asep Saputra kembali dipercaya oleh masyarakat untuk menjabat sebagai Kepala Desa Citikur, dengan masa jabatan hingga tahun 2027.
Selama kepemimpinan tersebut, Desa Citikur mengalami perubahan yang sangat signifikan. Jika pada awalnya, sekitar tahun 2025, Citikur masih dikategorikan sebagai desa tertinggal, maka berkat semangat pembangunan yang tinggi, partisipasi aktif masyarakat, serta kepemimpinan yang visioner, Desa Citikur berhasil bertransformasi menjadi desa maju.
Pembangunan infrastruktur berjalan pesat di berbagai sektor, mulai dari jalan desa yang kini sudah beraspal, pembangunan sarana pendidikan dan kesehatan, hingga pengembangan ekonomi kreatif masyarakat. Salah satu simbol kemajuan tersebut adalah berdirinya Gedung Balai Pertemuan Desa Citikur, yang megah dan indah layaknya istana negara. Gedung ini menjadi pusat kegiatan sosial, budaya, dan pemerintahan desa, sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat Citikur.
Kini, Desa Citikur dikenal sebagai desa yang maju, mandiri, dan sejahtera, dengan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan semangat pembangunan berkelanjutan. Sejarah panjang perjuangan Citikur dari dusun kecil hingga menjadi desa maju menjadi cerminan tekad dan kerja keras warganya untuk terus membawa desa tercinta menuju masa depan yang lebih gemilang.


